Sepucuk Surat Untuk Mama

25 Dec 2016

Jakarta, 22 Desember 2016

Dear Mama,

            Mungkin ini surat pertama yang ku tulis untukmu. Meskipun telah 27 tahun aku menjadi anakmu. Betapa malunya aku ketika dirimu telah memberikanku banyak kasih sayang, namun aku hanya mampu mengungkapkan kasih sayangku ini pada sebuah surat.

Mama, 27 tahun yang lalu, kau mengeluarkan aku dari rahimmu dengan pertaruhan nyawa. Saat ku lapar dan haus, engkau menyuapiku makan dan minum. Saat dingin menerpa, engkau hangatkan suasana penuh keceriaan. Saat ku menangis, engkau menenangkanku dalam dekapmu. Saat ku mulai belajar merangkak, engkau dengan sabar menjaga setulus hati. Saat ku mulai belajar bicara, engkau dengan sabar mengenalkan bahasa tutur kata. Saat ku mulai berjalan dan melangkah, engkau memberi perhatian untuk mengawasi dan memotivasi hingga aku mampu tumbuh dan berkembang sampai saat ini.

Mama, aku masih ingat juga ketika tubuhku terbaring sakit, engkau selalu ada disampingku untuk menjagaku, memegang dahiku, membolak-balikkan kain dingin untuk mengompresku, bahkan sampai tak tidur. Dalam diam, aku coba resapi, aku coba selami segala moment dalam hidupku yang telah terjadi bersamamu. Aku masih ingat betapa besar pengorbananmu untukku yang tak dapat ku lukiskan satu per satu dengan kata. Tak kan pernah terhitung perjuanganmu dalam merawatku hingga dewasa saat ini.

Melalui surat ini, aku hanya ingin minta maaf kepadamu karena aku sudah banyak melakukan hal yang membuat kamu sedih. Pernah suatu hari aku mengatakan masakanmu tidak enak, padahal engkau membuat makanan itu dengan cinta yang teramat besar. Pernah suatu hari aku membentakkmu dengan kata-kata yang ada di luar batas kesadaranku. Padahal ucapan yang terlontar dari lidahku menjadi penyayat hatimu. Maafkan aku, Mama !

Mama, kini aku telah dewasa, usiaku sudah mencapai 27 tahun. Ketidaktahuanku telah engkau ubah menjadi pengetahuan. Kelemahan ku, engkau ubah menjadi kekuatan. Kekanakanku, engkau ubah menjadi kedewasaan. Sungguh jasa-jasamu teramat mulia. Maafkan aku jika mungkin aku belum bisa membuat engkau bangga. Maafkan aku yang kini disibukkan dengan aktivitas sehari-hari yang membuat waktuku semakin sedikit untukmu.

Mama, kerut diwajahmu masih melambangkan kegigihanmu. Terima kasih atas segala do’a yang telah kau panjatkan saat ku tertidur lelap. Terima kasih telah mengajarkan arti kesabaran untukku. Semua terasa indah, saat kita bersama walau terkadang aku salah dihadapanmu. Namun tak ku pungkiri jika aku tak bisa hidup tanpamu. Terima kasih mama karena telah memberi warna-warni cinta dalam hidupku.

Mama, engkau bagai sinar yang sempurna. Engkau bagai lilin yang terpancar rata. Engkau bagai jantung yang tersemat di dada. Aku tak akan membiarkanmu gelap, padam, dan berhenti berdetak hingga tak terlihat ada yang mengalir dari kelopak matamu. Karena tiap tetesan air matamu yang jatuh adalah kebahagiaanku yang terlukai. Kelak, kehidupan kita di dunia dan nanti di alam sana akan menjadi abadi dan harum karena dipenuhi berjuta pahala dan bunga do’a.

Apabila waktuku tak banyak untukmu, aku ingin di setiap doa’mu, kau sebut namaku. Apabila aku berada di batas akhir kehidupan, jangan mandikan aku dengan air matamu itu. Apabila aku terkubur, maka kuburlah aku dalam hatimu. Aku menyayangimu mama. Aku begitu mencintaimu karena kau surga terindah yang diciptakan Tuhan untukku.

Inilah sepucuk surat yang ku tulis. Surat yang sederhana karena lidah ini kelu tak mampu berucap. Surat yang sederhana karena tangan ini tak mampu lebih lama lagi menggoreskan kata. Surat yang memang tak pernah ku serahkan secara langsung karena rasa malu ku yang yakin tak bisa membalas segala yang telah engkau berikan. Surat yang tak tahu apakah mama akan membacanya.

‘Ma, inilah surat untukmu, surat cinta untuk mama…’

                                                                                Dari yang mencintaimu,

                                                                                 -Ananda Achmad Humaidy-

 

 


TAGS Hari Ibu LIFESTYLE Terima Kasih Mama Surat Cinta


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me