Wawancara untuk Menggali Sumber Berita

11 Feb 2017

       Kamis , 9 Februari 2017, diperingati sebagai Hari Pers Nasional (HPN). Tahun ini kegiatan dipusatkan di Kota Ambon, Maluku, yang dihadiri oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Seiring dengan perjalanan panjang pers nasional yang berperan maka berita hadir sebagai produk jurnalistik yang hanya bisa lahir dari fakta-fakta di masyarakat. Dibalik fakta-fakta itu tentu ada aktornya. Untuk kelahiran sebuah produk jurnalistik yang sehat, jurnalis harus mampu membuat si aktor bicara. Cara efektif untuk itu, tidak ada lain, kecuali dengan jalan melakukan wawancara.

       Dalam aktifitas jurnalistik, sebuah wawancara sudah tentu memerlukan berbagai sentuhan teknik dalam implementasinya. Teknik wawancara dihadapkan dengan sesuatu yang dinamis bahkan progresif dan juga fleksibel. Artinya, teknik wawancara bukan merupakan sesuatu yang harus baku, kaku, apalagi sakral. Teknik itu berkembang seiring dengan perkembangan masyarakat. Para jurnalis juga dituntut untuk senantiasa memberdayakan diri sesuai tuntutan zaman dengan tetap teguh pada kebenaran.

       Bagi aku, terpenuhinya prinsip-prinsip keberimbangan bagi sebuah berita hanya bisa ditempuh dengan wawancara. Sekali lagi aku tekankan, hanya dengan wawancara, maka berita sebagai hasil karya jurnalistik akan memiliki daya hidup sekaligus bisa dipertanggungjawabkan. Sebab, dengan wawancara, fakta-fakta dari masyarakat yang dihimpun wartawan akan terekonstruksi dengan baik.

      Dibalik itu, Wartawan tidak boleh mengabaikan anatomi persoalan yang terkait dengan temuan fakta-fakta di lapangan. Dalam peristiwa-peristiwa tertentu, Wartawan wajib memetakannya (mind mapping). Penyiapan anatomi persoalan itu bahkan merupakan langkah awal sebelum berlangsungnya sebuah wawancara. Bermutu tidaknya sebuah wawancara, biasanya justru lebih banyak ditentukan oleh hal tersebut. Misalnya, seorang Wartawan ingin mengetahui secara detail tentang posisi, peran dan sumbangan intelektual dalam PILKADA di DKI Jakarta, maka wartawan harus mampu menggambarkan bagaimana kaum intelektual Indonesia mengembangkan wacana yang beragam atas wacana resmi pemilihan umum kepala daerah di Jakarta sesuai visi misi atau program kerja masing-masing pasangan calon. Pilihlah narasumber yang netral sehingga berita hadir dengan seimbang. Itu hal penting !.

        Dari lingkup tersebut akan dibuat kategori-kategori intelektual Indonesia. Dan mungkin saja akan segera terpetakan adanya kelebihan dan kekurangan dari semua pasangan calon yang ada. Secara demikian, setidaknya telah tercipta sarana pemahaman baru yang lebih memadai terhadap intrepretasi masyarakat yang mengkonsumsi berita.

       Untuk sampai pada pemahaman itu, seorang Wartawan harus memiliki referensi cukup tentang berbagai bidang yang diminati. Jadi, wawancara seorang jurnalis hanya akan sukses dan bermutu, manakala ia telah memiliki kesiapan seperti contoh diatas agar pers selalu berada dalam garda depan menyebarkan kebenaran bukan kebohongan.

 


TAGS Wawancara event Berita Hari Pers Nasional


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me