Baca Dong! Generasi Muda Mengulas Politik

20 Feb 2017

     Momentum Pemilihan Gubernur 2017 sebagai pesta demokrasi akbar bagi warga DKI Jakarta menawarkan harapan baru kepada segala kalangan di ibukota. Masyarakat berhak memilih pemimpin terbaiknya, begitupun para calon gubernur dan wakilnya berhak merebut hati rakyat untuk duduk sebagai orang nomor satu di DKI Jakarta. Kerumitan permasalahan ibukota sudah tentu menjadi hal utama yang harus segera dibenahi oleh Gubernur terpilih kelak. Untuk itu, suara masyarakat turut menjadi penentu dalam keberhasilan kepemimpinan kepala daerahnya dalam setiap isu dan aspek kehidupan, sehingga sangat perlu didengar oleh pemimpinnya.

     Bicara politik bukan lagi hal yang tabu bagi generasi muda. Para generasi muda sudah saatnya belajar tentang politik Indonesia yang selalu menggelitik. Kebijakan yang dihasilkan para elite politik akan berdampak terhadap hampir seluruh aspek kehidupan warga, tak terkecuali anak muda. Untuk itu, generasi muda harus menyampaikan aspirasi politik berdasarkan bidang yang mereka tekuni.

     Tidak hanya itu, peran anak muda dalam pemilihan kepala daerah (Pilkada) tidak bisa dipandang sebelah mata. Dari data Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) DKI Jakarta tercatat jumlah pemilih muda dengan rentang usia 17-30 tahun lebih dari 1,9 juta jiwa atau 27,3 % dari total Daftar Pemilih Tetap (DPT). Tentu sebagai warga negara, anak muda memiliki peran, hak, dan kewajiban yang sama dengan warga negara lainnya. Sudah selayaknya, para calon pemimpin DKI Jakarta memperhatikan aspirasi generasi milenial ini.

     Untuk mendekatkan politik kepada anak muda, komunitas Sinergi Muda bersama duo YouTuber Asumsi (dengan concern content politik bagi anak muda) telah menggelar diskusi publik dengan tema “Dengerin Dong! Anak Muda Bicara Pilkada DKI” di Es Teler 77 Resto, di Jl. Adityawarman No. 61, Jakarta Selatan, pada Rabu, 8 Februari 2017. Penulis pun berkesempatan hadir dalam acara ini.

     Kegiatan diskusi dilatarbelakangi agar calon pemimpin DKI Jakarta bisa mengakomodir isu-isu spesifik yang terkait dengan anak muda ibukota. Acara ini dihadiri oleh tim sukses masing-masing pasangan calon gubernur DKI Jakarta terdiri dari Rizki Aljupri (Agus-Sylvi), Michael Sianipar (Ahok-Djarot), dan Anggawira (Anies-Sandi). Mereka menanggapi panelis-panelis muda dari berbagai unsur profesi, seperti:

  • Annisa Rahmania (penyandang disabilitas sekaligus ketua Young Voice Indonesia)
  • Yuki Rahmadini (ekskutif muda dari Owner Onigiri Futago)
  • Agrita Widiasari (aktivis kaum Urban dari Co-founder Sinergi Muda)
  • Rozinul Aqli (mahasiswa dari Master School of Global Affairs and Public Policy, The American University in Cairo)
  • Taufan Akbari (akademisi dekan muda London School Public Relations dan inisiator Indonesian Community Network)
  • Sri Suryani (kaum marjinal dari Komunitas Ciliwung Merdeka)

Pokok bahasan yang disajikan mewakili berbagai macam golongan muda sesuai latar belakangnya masing-masing.

 

Acara dibagi dalam 3 segmen, yaitu:

  1. Pemaparan gagasan dan pertanyaan dari panelis-panelis muda yang mewakili berbagai latar belakang dan profesi terkait peran anak muda di Jakarta
  2. Tanggapan dari ide dan gagasan yang telah dilontarkan panelis oleh perwakilan tim sukses setiap pasangan calon
  3. Respon dari audiens umum yang hadir dalam diskusi.

 

Adapun tuntutan-tuntutan kaum muda untuk DKI Jakarta :

  1. Perbaikan tata ruang kota untuk generasi muda yang ramah lingkungan

        Perwakilan dari Komunitas Ciliwung Merdeka berharap kepada siapapun yang terpilih menjadi gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta kelak dapat lebih memperhatikan tata ruang kota di Jakarta. “Setiap orang berhak untuk hidup yang lebih baik, termasuk masyarakat korban relokasi,” ujar Sri.

        Menurutnya, selama ini Pemerintah Provinsi DKI Jakarta lebih memilih menggunakan relokasi dalam proses pembangunan. “Padahal banyak pilihan lain termasuk konsolidasi tanah atau berbagi tanah”. Pilihan tersebut lebih partisipatif sebab masyarakat bisa diminta pendapatnya soal pembangunan. Bahkan justru Pemerintah semena-mena menjadi tukang gusur. Ini menjadi salah satu topik yang paling menarik karena pemimpin DKI Jakarta akan menentukan kehidupan penghuni bantaran sungai Ciliwung yang rawan penggusuran.

      Menanggapi masalah ini, Michael Victor Sianipar yang mewakili pasangan Ahok-Djarot menegaskan secara bertahap akan mengatasi masalah ini. “Kami tidak bisa memberi janji manis, namun kami siapkan rusun untuk mereka. Pada 2013, kami telah siapkan rusun Jatinegara yang layak untuk menggantikan hunian yang digusur,” ujarnya.

       Panelis dari kalangan mahasiswa juga berpendapat, “Harga hunian di pusat kota masih terlalu mahal, sehingga banyak pekerja yang lebih memilih untuk tinggal di luar Jakarta. Hal ini justru meningkatkan mobilitas pekerja untuk keluar-masuk Jakarta,” ujar Rozinul. Rozi berharap akan lebih banyak ketersediaan hunian murah di kota.

 

  1. Atasi kemacetan agar generasi muda tidak merasa tua di jalan

       “Hanya ada sedikit bukti yang menunjukkan pengembangan transportasi massal mampu mengurangi kemacetan. Menurut saya, macet terjadi karena kebanyakan pekerja merupakan commuter dari wilayah pinggiran Jakarta. Kalau mau mengurangi macet, dekatkan pekerja dengan tempat kerjanya [pusat kota]. Transportasi massal yang ada belum bisa mengatasi kemacetan ibukota. Bahkan, penulis pun berasumsi bahwa para pekerja di ibukota seharusnya bisa bekerja sesuai dengan domisili sehingga mobilitas transportasi tidak begitu banyak.

       Menanggapi segala bentuk pendapat dan pertanyaan panelis, perwakilan dari setiap paslon memberikan jawaban yang berbeda. Ketika membahas macet, Anggawira menganggap kemacetan bisa terjadi karena etika pengemudi ataupun karena keterbatasan rute transportasi massal yang kurang efektif. Sementara itu, Rizki menganggap macet terjadi karena konektivitas antara satu angkutan ke angkutan lain tidak tertata dengan baik. Lain halnya, Michael berpendapat untuk mengatasi macet, permasalahan ekonomi harus lebih dulu diselesaikan. Beragam argumentasi mereka kemukakan atas dasar program kerja yang telah disusun dari masing-masing paslon.

  1. Jadikan kota Jakarta itu menjadi kota ramah dan nyaman bagi penyandang disabilitas

      Panelis dari Ketua Young Voice Indonesia (sebuah organisasi masyarakat berskala internasional yang beranggotakan pemuda disabilitas) mengemukakan pendapat bahwa anak muda yang tuli sulit berinteraksi dengan nyaman apalagi mendapat fasilitas umum (seperti halte) yang menggunakan teks penanda untuk orang tuli. “Teman-teman tuli masih butuh teks. Tapi masih banyak halte dan bis yang tidak ada teksnya. Masih banyak hambatan beraktivitas (bagi teman-teman tuli),” kata seorang penerjemah yang menuturkan pendapat Annisa.

        Bukan hanya tentang fasilitas bagi kaum disabilitas. Permasalahan transportasi publik juga menjadi perhatian beberapa panyandang difabel. Mulai dari aksesibilitas hingga penggunaan transportasi publik tersebut. “Pemerintah juga tampaknya tidak memperhatikan pedestrian bagi difabel. Hal ini terlihat dari masih banyak area bagi pejalan kaki yang terhalang oleh pohon atau parkiran motor. Hal ini tidak hanya menyulitkan difabel, tetapi juga pejalan kaki biasa,” ujar penerjemah bahasa isyarat.

         Para penyandang difabel pun berharap agar kota Jakarta bisa lebih ramah untuk mereka, terutama juga dengan penyediaan pendidikan, lapangan kerja dan wirausaha. Mereka melakukan upaya agar bisindo menjadi bahasa yang digunakan di sekolah-sekolah umum dan luar biasa. Setelah itu, disisipkan kembali mata pelajaran atau kegiatan di luar akademi tentang pendidikan disabilitas termasuk wawasan hak-hak disabilitas yang tertuang dari UU No. 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. Hal ini penting dilakukan agar edukasi terhadap non disabilitas bisa menumbuhkan kepercayaan diri para penyandang disabilitas agar ekosistem inklusi bisa terbangun karena semua generasi muda itu setara.

        Untuk sektor lapangan kerja dan usaha, para penyandang disabilitas menyampaikan agar diberi ruang atau wadah bagi mereka untuk muncul bersama masyarakat. Anak muda disabilitas juga menginginkan bisa berkontribusi dengan bakat apapun yang mereka miliki karena mereka juga bagian dari generasi muda yang sama-sama memiliki hak sebagai warga negara untuk aktualisasi diri.

  1. Wirausaha muda di Jakarta harus dikembangkan

       Agrita Widiasari, pendiri Sinergi Muda menanyakan komitmen masing-masing calon untuk pengembangan kewirausahaan bagi kaum muda. “Jakarta itu sudah seperti melting pot karena banyak pelaku industri kreatif di sini,” ujarnya. Selain itu, ia berharap agar Jakarta menjadi lebih aman bagi pekerja perempuan. Mengingat banyak perempuan yang mulai terjun di industri kreatif, “Mereka sering pulang malam dan sangat rentan terhadap pelecehan seksual,” ujar Agrita.

         Yuki Widiasari, seorang pengusaha muda di Jakarta juga mengharapkan dukungan dari Pemda Jakarta terhadap pelaku usaha. “Baik dari bantuan pelatihan atau kemudahan mengakses modal,” ujarnya. Ia tidak ingin ketika banyak pelaku usaha muda menjadi usahawan musiman karena kesulitan finansial.

 

  1. Pendidikan untuk semua generasi agar mereka siap untuk menjadi tenaga pendidik

        Panelis dari kalangan akademisi menyampaikan beberapa data yang menunjukan peningkatan jumlah guru muda di Indonesia. “Sayangnya, jumlah tersebut tidak begitu tinggi di Jakarta. Banyak kaum muda yang tidak tertarik untuk menjadi guru di Jakarta,” ujarnya. Besar harapannya, pasangan calon yang berhasil memenangi Pilkada DKI Jakarta punya tantangan untuk menarik perhatian kaum muda untuk menjadi guru. Hapus stigma kaum muda yang enggan menjadi guru karena pendapatannya kecil. Inisiator Indonesia Community Network tersebut mengingatkan bahwa Indonesia akan menghadapi bonus demografi pada 2035, berarti kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia harus baik.

 

        Di segmen ketiga, audiens pun mulai buka suara. Generasi muda mulai menyampaikan aspirasi tentang beragam tema, mulai dari reformasi agraria, efektivitas co-working space, masalah birokrasi administrasi yang kurang maksimal hingga peran Abang-None Jakarta.

“Seharusnya yang menjadi Abang-None bukan hanya dijadikan maskot, tetapi juga digunakan brain-nya untuk turut serta membangun Jakarta,” tutur salah satu peserta diskusi.

         Harapan dan masukan tersebut kemudian ditanggapi oleh perwakilan pasangan calon. Mereka juga berjanji agar berbagai aspirasi yang telah disampaikan untuk ditindaklanjuti oleh pasangan calon masing-masing meskipun mereka tidak menang menjadi orang nomor satu di DKI Jakarta sekalipun.

          Acara diskusi ini ditutup dengan penandatanganan “Wall of Inspiration” yang berisi harapan seluruh peserta diskusi oleh setiap perwakilan pasangan calon. Penulis sempat menuliskan disana agar Jakarta bisa menjadi kota pengembangan komunitas yang kreatif. Semoga saja inspirasi-inspirasi yang telah disampaikan anak muda bisa menjadi simbolisasi komitmen dari janji para calon pemimpin di DKI Jakarta untuk merealisasikan hak-hak anak muda ketika para calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta sudah menjabat.

         Intinya, Jakarta merupakan kota dengan kemajemukan penduduk yang sangat besar. Ada golongan muda didalamnya. Beragam kelompok anak muda di Jakarta, mulai dari kaum urban, akademisi, entrepreneur, penyandang disabilitas bahkan kaum marjinal memiliki kepentingan masing-masing, baik untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin di masa depan ataupun berkontribusi kembali kepada masyarakat. Semoga saja setelah mengikuti acara ini, aku dan anak muda lainnya bisa melek dan kawal politik di Indonesia. Kebijakan-kebijakan yang tercipta nantinya harus memberikan kehidupan layak bagi warga ibukota. Selain itu. Kolaborasi generasi milenial terhadap pemerintahan harus selalu memiliki ruang terbuka untuk diskusi dan bergerak bersama.


TAGS Generasi Muda Pilkada DKI Aspirasi Ibukota Kota Jakarta


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me