Kemuliaan Hati Kartini Memiliki Kedudukan Tinggi Ada di Film Kartini

25 Apr 2017

      Hari Kartini mungkin jadi salah satu peringatan paling rancu diantara hari-hari nasional lain yang sudah lama dicanangkan di Indonesia. Sosok Raden Ajeng Kartini selama ini digambarkan sebagai pahlawan wanita Indonesia yang berjuang di bidang pendidikan. Tetapi lucunya, tradisi Hari Kartini kebanyakan hanya terbatas pada lomba busana daerah yang bahkan tak ada hubungannya dengan penyebab Kartini dijadikan pahlawan nasional dan diperingati dalam hari khusus. Seperti ada kehilangan intrepretasi antara sejarah dengan rakyat Indonesia saat ini tentang sosok Kartini.

    

     Terlepas dari perdebatan tentang bagaimana cara memperingati Hari Kartini, ataupun tentang asal-usul status pahlawan nasional Kartini yang konon politis. Ada sebuah niat baik yang ingin diungkap dalam film terbaru tentang Kartini yang diproduksi oleh Legacy Pictures yang bekerja sama dengan Screenplay Film, bertajuk Film Kartini.

      Ada dua film Kartini yang pernah diputar di televisi dan bioskop Indonesia, yaitu Kartini dalam serial panjang yang dibintangi Yenny Rachman pada tahun 1983 karya Sumanjaya dan Surat Cinta untuk Kartini versi layar lebar yang dirilis tahun 2016 yang dibintangi Rania Putri Sari karya Azhar Kinoi Lubis. Lalu, Bagaimana film arahan Hanung Brahmantyo yang tayang di tahun 2017 ini dengan pemeran utama Dian Sastrowardoyo? Apakah bisa jadi pilihan untuk mengenal lebih dalam tentang Kartini?!.

     Cerita dimulai mengenai Kartini (diperankan oleh Dian Sastrowardoyo) yang sedang mempersiapkan diri menjadi raden ayu. Ketika perempuan Jepara zaman dahulu menjadi Raden Ayu, ia harus menjalani masa pingitan sampai nanti pria bangsawan melamarnya. Pada masa itu, melanggar adat adalah hal yang pantang untuk dilakukan. Namun, Kartini tetap teguh pendirian meski harus berada dalam tekanan tradisi yang mengharuskannya menjadi Raden Ayu.

    Kartini pun mempengaruhi kedua adiknya, Kardinah (diperankan oleh Ayushita Nugraha) dan Roekmini (diperankan oleh Acha Septriasa) yang juga dipingit untuk mendobrak budaya. Mereka berupaya membebaskan diri dari kakunya tradisi wanita ningrat Jawa yang harus berjalan sambil jongkok, berbahasa Jawa Kromo, menyembah dengan mempertemukan kedua tangan, dan menjalani ritual pengasapan dupa agar tubuh perempuan tetap harum.

    Tradisi Jawa kuno juga ditentang karena menganggap perempuan tidak pantas menuntut ilmu lebih tinggi dari pria hingga membuat perdebatan tersendiri di kalangan keluarga. Perempuan di era itu hanya ditakdirkan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, dan mengurus keluarga.

   Dalam film Kartini, beberapa hal yang dilakukan Kartini dalam lingkup keluarga terlihat lepas dari keanggunannya sebagai seorang perempuan. Kartini tampil dengan tomboi sekaligus menjadi sosok priyayi yang mendobrak tradisi dan adat. Ia dan adik-adiknya terbiasa mengobrol di atas tembok keraton dengan mengenakan kain dan kebaya. Kartini pun lebih menonjol menjadi pusat perhatian dibanding kedua adiknya. Ada tingkah laku konyol dalam sikap mereka menertawakan budaya priyayi dan melawan penjara pingitan. Mereka mulai hidup penuh tekanan dalam konflik rumah tangga keluarga golongan bangsawan.

   Tim produksi film ini coba mempertahankan unsur artistik sebagai proses penciptaan kreatif kisah hidup kartini yang berada pada kungkungan aturan, nalar, atau fakta sebagai cerita hidup seorang tokoh terkenal. Entah sesuai dengan kisah nyata atau tidak, namun dalam film ini terkesan tak ada saksi hidup yang bisa menjadi kunci untuk menguatkan adegan demi adegan.

   Tak hadir dalam kisah meratapi takdir sebagai perempuan yang berlarut kesedihan, Kartini dan adik-adiknya memiliki ide cemerlang untuk membaca dan menulis artikel tentang pemikirannya masing-masing. Kegemaran ini  seolah berhasil menembus batas peradaban.

    Dinding kamar yang semula dianggap Kartini membatasi gerak lincah selama masa pingitan perlahan menjadi dunia baru yang menembus ruang dan waktu. Apalagi saat R.M. Panji Sosrokartono (diperankan oleh Reza Rahadian), kakak lelaki Kartini memberikan kunci lemari buku yang ia miliki.

    Dari koleksi buku milik Kartono yang sedang melanjutkan studi ke Belanda, Kartini memiliki pandangan luas, pemikiran cerdas, dan sekejap lebih maju diantara perempuan pada masa itu. Melalui buku yang dibaca, Kartini terdeskripsi menjelajah ke berbagai negara dan seolah bercakap-cakap dengan tokoh dalam buku tersebut. Adegan ini terkesan hiperbola, namun menjadi suatu daya tarik yang berbeda dari film-film lokal lainnya.

    Film Kartini ingin memperkenalkan Kartini dari sudut pandang paling mendasar secara visual sesuai konteks zaman, sosial, dan budaya yang diberikan agar menjadi sesuatu yang patut dihargai. Meskipun apa yang dibilang ‘perjuangan Kartini’ belum bisa menyentuh karena film ini kurang menguras emosi dalam konflik.

     Desain produksi begitu membantu, sekalipun mungkin tak sepenuhnya otentik karena hanya ada beberapa unsur yang memberi efek kembali ke masa lalu dengan sentuhan flashback. Sekarang, tinggal bagaimana film ini bisa membawa plot utamanya kepada penonton.

   Secara keseluruhan, film Kartini belum komprehensif dalam mengedepankan sosok Kartini. Film ini lebih menitikberatkan pada apa yang Kartini perbuat dalam lingkup kehidupan sehari-hari namun dampaknya bagi rakyat sekitar justru sedikit tergarap.

     Akan tetapi, jika tujuan Film Kartini itu untuk memperkenalkan lagi sosok Kartini dari sisi tradisi yang harus diisi, maka film ini akan menjawabnya. Penonton pun akan tahu bahwa Kartini memiliki kemuliaan hati dengan kedudukan yang lebih tinggi.

 

Sepandai-pandainya, setinggi-tingginya ilmu dan seluas-luasnya pemikiran yang kita peroleh, manusia tidak selamanya dapat hidup sendiri. Pasti manusia membutuhkan dorongan, kekuatan, cinta dari orang-orang di sekelilingnya sehingga bisa berdiri lebih kokoh dan berbuat lebih baik untuk sesamanya*


TAGS opini Raden Adjeng Kartini Pelopor Kebangkitan Habis Gelap Terbitlah Terang Emansipasi Wanita Kemajuan Negeri Blogger Eksis


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me