Melepas Rindu Dengan Memanfaatkan Waktu

30 May 2017

     

      Ramadan menjadi bulan refleksi spiritual. Dimana seluruh umat muslim akan berpuasa selama sebulan penuh. Kita akan berupaya menahan hawa nafsu dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Untuk menyemarakkan bulan suci tahun ini, kita perlu merencanakan berbagai aktivitas guna menambah kekhusyuan bulan Ramadan..

     Biasanya, buka puasa bersama menjadi waktu yang dinanti siapa saja. Jadwal sudah disusun sebelum Ramadan, ada yang buka puasa di rumah bersama keluarga besar atau pergi ke tempat-tempat hangout bersama teman-teman dekat bahkan sahabat-sahabat lama. Namun, apakah hanya itu saja yang kita persiapkan dengan euforia?… .

     Tentu saja tidak. Kita harus kembali memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya karena waktu akan berlalu begitu halus, menipu kita yang terlena dengan mulus.

 

 

     Mari kita renungkan. Belum sempat shalat subuh di masjid, apalagi berdzikir pagi dan melanjutkan shalat dhuha, tanpa sadar hari sudah menjelang siang.

     Tak terasa matahari sudah meninggi. Awalnya setiap pagi ada niat untuk menambah hafalan ‘Satu Hari Satu Ayat’, tapi itu hanya keinginan semu saja.

     Tiba-tiba adzan zuhur pun terdengar. Kesibukan masih tersita hingga waktu berbuka tiba. Malam pun berlalu begitu saja, hanya menyempatkan shalat tarawih pada pekan perdana.

     Awalnya, kita berkomitmen tidak akan melewatkan malam terkecuali dengan shalat sunnah tahajud dan witir. Meskipun hanya 3 rakaat singkat, namun semua itu hanya rencana.

Akankah terus begini nasib hidup? Menghabiskan umur dengan berhura-hura dalam usia fana?! 

     Padahal jika kita renungi lebih dalam. Tak peduli usia 10, 20, 30, 40, atau 50 tahun lagi karena ajal siap menanti kapan saja Ia bisa menjemput kita. Sambil menunggu ajal tiba, sejenak kita intip catatan amal yang kita pernah perbuat apa saja..?

Ada suatu kisah tentang waktu yang seperti apa yang bisa membuat Allah SWT senang.

Nabi Musa : “Wahai Allah, aku sudah melaksanakan ibadah. Lalu manakah ibadahku yang membua

                   Engkau senang?… .”

Allah         : “Shalat? Shalatmu itu untukmu sendiri. Karena dengan mengerjakan shalat, kamu akan mencegah

                   perbuatan keji dan munkar.

                   Dzikir? Dzikirmu itu hanya untukmu sendiri, membuat hatimu menjadi tenang.

                   Puasa? Puasamu itu untukmu sendiri, melatih dirimu untuk memerangi hawa nafsumu sendiri.”

 

     Astaghfirullah. Kita pun kembali merenung. Nabi Musa saja yang sudah mengerjakan 3 hal belum bisa membuat Allah SWT senang. Ternyata tak seberapa amalan yang kita lakukan. Sedekah dan infaq hanya sekedarnya, Mengajarkan ilmu hanya ke beberapa saja, Silaturahmi pun seolah punah semua. Apalagi hubungan kepada Sang Pencipta! … .

Apakah mungkin kita bisa minta waktu tambahan untuk beramal dan mempersiapkan bekal sebelum ajal itu datang?

     Jawabnya tidak. Karena kita sudah terlalu lama menyia-nyiakan. Tanpa kita pernah merasa kehilangan waktu dan kesempatan untuk menghasilkan pahala disetiap detiknya, maka jika ada waktu 1000 tahun pun, kita tidak akan pernah merasa cukup karena termasuk dalam golongan orang-orang terlena.

     Pagi, Siang, Sore, Malam telah kita lalui dalam hitungan hari, minggu, bulan, dan tahun. Kita tak pernah tahu, jika esok harus menghadapi takdir kematian itu sendiri.

 

     Hingga akhirnya, Nabi Musa bertanya kembali

Nabi Musa : “Lalu, apa ibadahku yang membuat hatiMu senang Ya Allah?… .”

Allah         : “Sedekah, Infaq, Zakat, serta Perbuatan Baikmu. Itulah yang akan membuatku senang. Tatkala kamu

                   membahagiakan orang yang sedang susah. Aku hadir disampingnya dan Aku akan mengganti dengan

                   ganjaran 700 kali.” (QS. Al Baqarah ayat 261-262)

 

     Sudah mengerti kan? Karena bila kita hanya sibuk dengan ibadah ritual dan kita bangga hanya melakukan hal itu saja, maka tandanya kita hanya akan mencintai diri sendiri bukan Allah.

     Tapi, bila kita berbuat baik dan berkorban untuk orang lain. Maka, tandanya kita mencintai Allah dan tentu Allah senang karena itu.

 

Jadi, masih ragu kita menggunakan waktu kita dengan hal yang bermanfaat?… .

Buatlah Allah senang, maka Allah akan melimpahkan rahmat-Nya dengan membuat hidup kita menjadi lapang dan bahagia. Waktu berlalu begitu halus, semoga saja di sisa umur kita dapat dipertemukan kembali di bulan suci Ramadhan setiap tahunnya untuk membersihkan diri dan meningkatkan ibadah kepada Allah SWT*


TAGS OPINI Rindu Ramadhan Waktu Bermanfaat Serba-Serbi Ramadhan Blogger Eksis


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me