Tentang Duka, Luka, dan Wanita yang Bertemu dengan Ego Para Pria

2 Aug 2017

     “Sesempurna apa pun kopi yang dibuat, kopi tetaplah kopi, punya sisi pahit yang tak mungkin disembunyikan.” ‒Filosofi Kopi-

 

Blogger Eksis di Kedai FilKop Melawai

     Berawal dari sebuah buku laris karya Dewi Lestari, cerita Filosofi Kopi divisualisasikan ke dalam bentuk film sejak tahun 2015. Berlanjut dari hal itu, karya ini menjadi inisiasi sebuah kedai kopi yang juga dinamakan Filosofi Kopi. Tak berhenti sampai situ, Web Series Filosofi Kopi pun tayang melalui YouTube hingga di tahun 2017 ini hadir kembali tayangan audio visual layar lebar berjudul Filosofi Kopi 2: “Ben & Jody”.

                            

 

 

     Konsistensi membangun bisnis dari nol mengalami jalur berliku yang harus dihadapi. Jatuh bangun sahabat sejati yang memutuskan untuk berwira usaha dengan membuka kedai kopi tampak teruji. Afiliasi Ben dan Jody pun mempertemukan pada suatu penyuguhan instropeksi dalam hidup. Ada duka, luka, dan wanita yang menyelimuti renungan hingga menyentuh relung-relung ideologi pribadi.

    Dari awal hingga akhir cerita, mereka berusaha melengkapi agar tidak berdiri sendiri di atas egosentris yang dipertaruhkan. Bayang-bayang Tarra dan Brie memberi percikan konflik untuk refleksi yang dilakukan oleh Ben dan Jody. Keberanian wanita-wanita tersebut berhasil menyembuhkan luka dan duka yang telah dialami para pria.

     Tarra dibentuk sebagai sosok perempuan mandiri. Brie hadir sebagai karakter perempuan cerdas. Tak sekedar berperan sebagai pemanis, tokoh ini hadir memberi warna tersendiri yang mumpuni untuk mengokohkan cerita tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Fantasi kisah cinta segi empat pun berhasil diracik namun tidak mampu mengelabui penonton karena tak terbalut dalam nuansa penuh teka-teki.

     Unsur percintaan hadir sebagaimana film-film lainnya. Berawal dari benci, benih-benih cinta seolah menguatkan untuk berkata bahwa pada akhirnya pasangan itu sudah memiliki takdirnya. Iringan lagu (back sound) ditempatkan sesuai porsinya dengan aransemen dari payung teduh yang begitu rapuh. Kombinasi dramatik yang mengantar penonton untuk larut dalam setiap adegan.

     Cerita pun mengalir ringan namun tak berisi. Masa lalu kembali menghantui narasi yang dijejali pada kedalaman karakterisasi bukan konflik yang pasti. Gaya tutur yang bertele-tele memaksa penonton untuk masuk dalam suasana film yang penuh dramatisir.

twitter @me_idy

    

     Belum lama setelah Filosofi Kopi di Jogja resmi dibuka, kemudian Ben mendapat kabar dari Lampung bahwa ayahnya telah tiada. Dibalik kisah duka tersimpan cerita luka. Ayah Tarra yang merupakan pengusaha sawit memberi karangan bunga untuk ayah Ben yang telah tiada dan karangan bunga juga dikirimkan saat pembukaan kedai Filosofi Kopi di Jogja. Dari situ Ben mengetahui bahwa ayah Tarra merupakan salah satu direktur perusahaan sawit yang juga berperan dalam alih fungsi lahan kopi ke sawit hingga menyebabkan konflik agraria di Lampung. Konflik lahan tersebut menelan korban jiwa, salah satunya ibu dari Ben.

     Ben tidak terima dengan realita bahwa Tarra merupakan putri dari pengusaha yang menggusur ladang kopi milik orang tuanya. Tidak hanya itu, Ben juga terjebak dalam emosi yang kuat antara dendam dan ketertarikan hatinya pada Tarra. Penonton bisa menebak dengan mudah kerumitan kisah ini.

     Dalam situasi tersebut, Jody mengajak Tarra ke Makasar untuk urusan pengembangan usaha Filosofi Kopi. Berkali-kali Tarra mencoba menghubungi Ben tapi tak berhasil. Hingga Jody menceritakan kisah sebenarnya pada Tarra, bahwa Ben punya masalah dengan ayah Tarra. Mereka bercerita di sebuah pendopo kebun kopi di Tanah Toraja, Sulawesi Selatan.

     Beralih dari Tanah Toraja. Di Jakarta, Ben sangat frustasi dengan persoalan yang dialaminya. Hingga akhirnya, ia berhasil menumpahkan curahan hatinya pada Brie, sosok perempuan yang awalnya tidak disukai oleh Ben. Ia bercerita tentang lahan kopi orang tuanya, alih fungsi lahan dan penggusuran yang dilakukan perusahaan ayah Tarra.

     Sekelumit perdebatan muncul diantara konflik empat orang tersebut. Masing-masing memiliki ego yang harus dipertaruhkan atas nama cinta dan persahabatan.

     Ben memutuskan untuk meninggalkan Filosofi Kopi. Ben dan Brie yang merajut perasaan satu sama lain, akhirnya pergi ke Lampung untuk mengurus bibit kopi warisan ayah Ben, sementara Jody dan Tarra tetap di Jakarta untuk meneruskan usaha kedai Filosofi Kopi.

     Inilah dinamika filosofi kopi 2 sebagai sajian duka, luka, dan wanita yang difilosofikan sebagai rasa yang bertemu dengan nyawa atau ego dari para pria. Walaupun dikomandoi oleh Angga Dwimas Sasongko dan Ben maupun Jody diperankan oleh aktor yang sama dengan sekuel pertama. Filosofi Kopi 2 menjadi penyesalan tersendiri dalam batinku karena memang tak mampu bersaing dengan sekuel sebelumnya dari segi kekuatan cerita.

Akankah kejayaan film filosofi kopi terdahulu bisa dipertahankan saat ini?

Penonton lah yang akan menilainya.

 

Suasana depan kedai FilKop saat Blogger Site Visit Cafe


TAGS Filosofi Kopi 2: Ben & Jody Tentang Kopi Tentang Pria dan Wanita Ada Duka dan Luka Hiburan Bicara Film Review Film


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me