Film Banda Menyimpan Sejarah Indonesia yang Terlupakan

9 Aug 2017

   

“Melupakan masa lalu bangsa sama dengan mematikan masa depan Indonesia”

 

   Banda ‘The Dark Forgotten Trail menjadi film dokumenter pertama yang digarap oleh Jay Subyakto. Dalam film ini, Jay berperan menentukan interpretasi materi tentang sejarah Indonesia yang dipandang lebih khas untuk disampaikan kepada khalayak luas.

 Perkembangan industri film nasional yang sangat pesat dan beragam, tak menyurutkan Film Banda bersaing di jaringan bioskop komersil. Film Banda tetap mempertahankan unsur-unsur visual dan verbal yang dikolaborasikan sebagai rangkaian cerita dinamis. Ada masa lalu yang terlupa karena matinya sejarah bangsa dihadapan generasi muda Indonesia. Sebuah tempat dinamakan Banda Naira yang kaya akan pemikiran, kepedihan, semangat, dan ironi yang justru harus menjadi cermin untuk hari ini.

 Kolonialisme bermula di Pulau Banda. Perbudakan pertama terhadap bangsa Indonesia yang katanya zamrud khatulistiwa justru didasari atas sejarah jalur rempah. Bahkan, konflik SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan) pun pernah terjadi disini. Itulah benang merah yang saling terkait antara kepulauan Banda dan jalur rempah yang cukup berpengaruh bagi peradaban dunia.

 

    Kisah tentang kepulauan Banda yang dahulu berjaya karena pala (Myristica Fragans) menjadi tema yang diangkat ke dalam bentuk film dokumenter produksi LifeLike Pictures. Film ini menceritakan kembali sejarah Kepulauan Banda dan pala yang hampir terlupakan. Tak ketinggalan, terselip sederet kisah tentang sejumlah pahlawan bangsa yang pernah diasingkan ke Banda pada masa penjajahan seperti Moh. Hatta, Sutan Sjahrir, Dr. Tjipto Mangunkusumo, dan Iwa Kusuma Sumantri. Kehadiran film ini diharapkan mampu membangkitkan kembali semangat kebangsaan dan persatuan bangsa Indonesia yang mulai bergejolak.

  Korelasi cerita yang ditulis Irfan Ramli dalam film ini memenuhi unsur visual dalam dokumenter. Analisanya terhadap outline dokumenter didasarkan atas observasi yang dilakukan selama pra produksi. Dari naskah hasil riset yang dikembangkan, Irfan berusaha menegaskan hubungan antara masa lampau dengan persoalan-persoalan kekinian. Masa lalu dan masa kini dari pulau Banda terdeskripsi dengan jelajah representatif yang nasionalis. Ada unsur observasionalisme proaktif yang mana penulis naskah mampu memilih materi film secara khusus sehubungan dengan pengamatan sebelumnya oleh sutradara dan produser.

     Cerita tentang Banda itu sendiri menjadi unsur verbal yang diungkap dari berbagai sudut pandang. Melalui kesaksian para narasumber seperti Usman Thalib sebagai sejarahwan,  Pongky Van Den Broeke sebagai pemilik perkebunan pala, Wim Manuhutu, Saharan Frangkemon, Lukman A. Ang dan lain-lain yang mewakili berbagai persepsi coba mengungkap secara jujur sejarah-sejarah yang tersembunyi dan berhubungan langsung dengan subyek dokumenter ini.

     Tuturan sejarah panjang tentang Banda yang begitu tertumpuk, terlupa, dan tertinggal begitu saja di mata bangsa Indonesia mampu disampaikan tanpa terbengkalai. Alur pun mengalir melalui cutting edge dukungan animasi grafis yang memberi impresi historis. Didukung pula dengan upaya penggambaran secara langsung tentang apa yang dikatakan oleh narator (Reza Rahadian) sebagai suatu bentuk unsur visual dengan mode ilustratif. Meski dibeberapa bagian, narasi yang berfungsi sebagai voice over belum mampu mewakili penjelasan secara gamblang.

   Opening scene dibuka dengan gumpalan awan dan establish shot menawan. Melalui mode asosiatif, pendekatan film dokumenter ini berusaha menggunakan potongan-potongan gambar sebagai unsur visual yang memiliki arti metafora dan simbolis. Ada unsur harafiah yang dapat terwakili dari tangan sinematografer handal, Ipung Rachmat Syaiful. Tata kamera lain seperti Davy Linggar, Oscar Motuloh, dan Dodon Ramadhan juga berhasil membuat imajinasi penonton seolah hidup pada masa-masa sejarah itu seperti saat visual di kebun pala, pesisir pantai, hingga Benteng-Benteng Belanda yang masih berdiri kokoh di Banda.

   Tidak hanya faktor alam Banda Naira yang divisualisasikan dengan baik. Faktor fisik pun juga diperhatikan karena dalam film Banda, juru kamera harus mengambil visual apa adanya dengan memanfaatkan teknik change focus seperti ruangan yang berantakan, puing-puing rumah yang terbakar, warna yang natural, dan semua situasi yang tidak mungkin dirubah atau diperindah. Tugu atau monumen hingga situs-situs peninggalan bersejarah pun menjadi alat yang tidak boleh dirusak hanya untuk keperluan pembuatan film. Keterbatasan-keterbatasan sudut pandang kamera berhasil dikompromikan dalam film Banda.

     Desain poster yang begitu mistis mampu menumbuhkan curiosity dengan ekspetasi karya anak negeri. Alunan musik dan suara yang ditata oleh Lie Indra Perkasa, Yusuf Patawari, dan Satrio Budiono mampu menghentak setiap pesan yang tervisualkan melalui bahasa verbal dengan iringan simfoni tinggi. Sajian puisi “Cerita Buat Dien Tamaela” karya Chairil Anwar dimasukkan menjadi anti klimaks sampai pada akhir cerita yang menggugah semangat kebangsaan kita untuk terus bergelora.

    Maka, film ini memiliki eksposisi bahwa Banda Neira sebagai titik nol Indonesia untuk dikenal dunia karena begitu banyak peristiwa jejak sejarah terjadi di tempat ini sebelum Indonesia merdeka. Alhasil, pala dipandang sebagai berkah sekaligus bencana bagi orang-orang Banda yang telah dibunuh dan terusir dari tanah airnya.

    Sebelum menonton film Banda, aku sarankan agar kita membaca kembali sejarah Banda yang terkoyak sehingga bisa mencocokkan fakta tertulis dengan unsur visual dan verbal yang diungkap. Hal ini harus dilakukan agar imajinasi-imajinasi liar yang kita dapatkan saat menonton film ini bisa lebih terarah dalam menyerap informasi dan argumen-argumen di dalam film ini.

     Untuk memenuhi bobot film dokumenter terbaik perlu ditambah juga visual grafis saat pohon-pohon pala itu ditanam di Pulau Banda hingga mekanisme pala yang diubah menjadi kosmetik karena dianggap mengandung aprodiak. Tanaman pala yang memiliki banyak manfaat dari seluruh bagian didalamnya terlalu cepat untuk disampaikan. Observasionalisme reaktif dalam film Banda ini pun berkurang karena bahan yang sebisa mungkin diambil langsung dari subyek yang difilmkan belum memiliki data penunjang yang tepat.

     Judul film juga menjadi hal yang diusik oleh para kritikus film. Meski bertujuan untuk menjangkau pasar internasional, seharusnya film ini tidak memakai bahasa asing untuk memberi pesan nasionalisme yang kental. Kontradiksi pun terjadi untuk menyebut film ini sebagai suatu edukasi sejarah murni yang mumpuni.

     Dibalik itu semua, Film Banda tetap menyimpan sejarah Indonesia. Aku merekomendasikan bagi siapa saja untuk menonton ini. Stigma masyarakat yang menganggap bahwa film dokumenter membosankan untuk ditonton berhasil ditepis oleh film Banda. Dengan durasi sekitar 94 menit, penonton akan disuguhi visual yang berbeda dari film-film dokumenter lainnya karena film ini berupaya mengungkap tabir masa lalu. 

     Rencananya, Film Banda juga akan diputar di sekolah-sekolah dan juga didistribusikan langsung ke Pulau Banda untuk ditonton generasi muda agar hasil karya kerja kolektif ini bisa mengapresiasi semua kalangan. Semoga saja film ini dapat dinikmati semua pencinta film nasional dan sejarah Banda dapat kembali diingat untuk dijadikan semangat dan harapan bagi Indonesia di masa depan.


TAGS Film Banda Banda The Dark Forgotten Trail Review Film Film Dokumenter Blogger Eksis Reza Rahardian


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me