Anyaman dan Bambu dari Indonesia Hadir untuk Masyarakat Dunia

8 Dec 2017

Badan Ekonomi Kreatif mendukung inovasi dan kreasi untuk produk anyaman dan bambu. Hal ini dilakukan agar produk anyaman dan bambu dari Indonesia dapat bersaing ditingkat internasional.

Melalui kolaborasi bersama yang dilakukan oleh Tim IKKON (Inovasi dan Kreasi melalui Kolaborasi Nusantara) yang terdiri dari generasi-generasi milenial, sekelompok pemuda ini berhasil menggali potensi lokal dengan pengrajin anyaman dan bambu di Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Mereka mampu menghasilkan produk anyaman dan bambu yang berbahan dasar alam menjadi produk bernilai tinggi hingga menembus pasar internasional.

Langkah ini akan menjadi kekuatan maksimal sebagai pendorong pergerakan kreativitas berbasis ekonomi lokal yang berkelanjutan. Kesiapan produk ditunjang dengan persediaan budidaya bahan dasar bertumpu pada pembaharuan dan daya cipta yang sudah ada bisa dikembangkan secara optimal. Diharapkan hasil dari kegiatan ini merupakan modal besar yang mengakar agar menjadi pusat perhatian dunia.

Produk berbahan dasar bambu dan anyaman tersebut mulai dipamerkan pada Chiang Mai Design Week 2017, di bawah naungan BAMBOOINA yang mempersenjatai 10 merek kontemporer Indonesia. Acara ini diselenggarakan dengan tema ‘Crafted Life’ yang menyajikan gaya hidup tradisional yang canggih dari masyarakat lokal yang mengilhami produk kreatif dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini terbagi dalam tiga tema antara lain Business of Design, Network Creator, dan Creative District yang terdiri dari pameran, display produk, workshop, sharing pengetahuan kreatif dari tanggal 6-10 Desember 2017 di Three Kings Monument, Wat Chiang Man- Wat Lam Chang, TCDC Chiang Mai.

Memilih merek yang dipamerkan untuk kolaborasi bukanlah tugas yang mudah. Leloq menjadi salah satu brand atau merk baru dari perwakilan Indonesia yang muncul di event tersebut.Brand ini tidak hanya menghasilkan produk yang bisa digunakan sehari-hari, beberapa pakaian dan konsep desa wisata minat khusus juga dihasilkan sebagai output kolaborasi bersama masyarakat lokal.

Perangkat makan dan penunjang perangkat wisata dibuat menggunakan material bambu dan anyaman daun lontar karena terinspirasi dari rumah adat yang ditempati oleh warga lokal di Kabupaten Belu. Biasanya, bambu dan anyaman tersebut hanya menjadi pondasi dari rumah adat asli suku di Belu yang masih mempertahankan kearifan lokal.

Hal ini juga yang diusung oleh brand Leloq untuk melakukan test market terhadap pasar Internasional. Setelah sebelumnya, produk hasil kolaborasi tersebut banyak diminati oleh masyarakat setempat Kabupaten Belu saat penyelenggaraan Atambua Fashion Culture Festival pada bulan Oktober lalu.Produk-produk hasil kolaborasi lainnya juga sedang dipamerkan pada BEKraf Festival 2017 di Bandung Creative Hub dan Gudang Persediaan PT. KAI Bandung pada tanggal 7 – 10 Desember 2017.


TAGS IKKON Chiang Mai Design Week 2017 Bekraf Festival Produk Lokal ekonomi


-

Siapa Aku?

Achmad Humaidy
@my.name.is.meidy
myeksis@gmail.com

Aku ingin selalu menulis apapun itu. Tidak pernah takut tulisanku tidak dibaca orang, yang penting tulis, tulis dan tulis. Suatu saat pasti berguna. http://perjalananhidupseorangachmadhumaidy.blogspot.co.id/ & http://www.kompasiana.com/achmadhumaidy

Follow Me